MEdia Ngobrol dan Informasi Smada / Smuda Ngawi...
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  LoginLogin  

Share | 
 

 Sekeluarga Ngamen Demi Menyambung Hidup

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 651
Age : 54
Lokasi : Nusantara Maya
Registration date : 29.01.08

PostSubyek: Sekeluarga Ngamen Demi Menyambung Hidup   Fri Aug 08, 2008 9:06 pm

Sekeluarga Ngamen Demi Menyambung Hidup
NGAWI - Bagi keluarga Sutiyo, mengais rupiah dengan ngamen tentu tak pernah dicita-citakan. Namun hal itu mesti dialaminya bersama istrinya Samirah, adiknya Sulis dan anaknya yang baru 3,5 tahun bernama Febri dan saudaranya bernama Udik. Selama beberapa hari ini, keluarga dari Ngrayun, Tuban ini menginap di tribun selatan Alun-alun Ngawi sambil berkeliling ngamen. Mereka ngamen dengan berjoget jenaka dan penampilan laiknya wayang orang. Muka dirias tebal, pakai selendang dan baju remo lengkap dengan kerincingnya. "Pekerjaan seperti ini sudah kami jalani sekitar 3 tahun," kata Sutiyo, 48 tahun, pemimpin rombongan.

Udik dan Sulis menari bersama alat peraga berupa jaran kepang. Febri yang masih kanak-kanak tak kalah luwes menggerakkan tubuhnya. Wajah lugunya ditutup dengan topeng bujang ganong dan menari bersama alunan kaset dlam tape lawas yang diletakkan dalam alat dorong kayu. Tape ini distel dan kasetnya diatur oleh Samirah. "Kami begini juga terpaksa, di Tuban masih ada dua anak yang sekolah. Mereka tahu kami ngamen dan tidak memasalahkan," kata Sutiyo.

Adegan jaranan dan tari jenaka bujang ganong dari keluarga ini seringkali terhenti ketika Febri merengek atau ngambek. Sebagai anggota kelompok yang termuda dan masih anak-anak, semua keluarga memaklumi tingkahnya. Kaset tembang khas Banyumas yang tak cocok di telinga bocah itu bisa membuatnya mogok menari. Setelah dibujuk dan tidak marah, Febri dengan cekatan mencari sendiri alatnya, selendang kecil, kerincing dan topengnya. Dan seorlah melupakan semua masalah ekonomi yang mendera orangtuanya, Febri pun ikut menari dengan jenaka.

Sebelum ngamen tari ini, Sutiyo menjadi tukang tambal ban. Namun dia merasa selalu terganggu mencari rejeki dari jalur ini. "Dua kali saya jual alat-alat padahal saat pelanggan sedang ramai, itu saya lakukan seperti dikendalikan orang lain," katanya.

Sutiyo berganti profesi karena menyadari dia memiliki kemampuan seni. Menari dia pandai namun hanya dikeluarkan kalau ada tanggapan besar. Selain istri dan anaknya, Sulis selepas lulus SD juga ikut ngamen. Mereka mengembara, terkadang ke Ponorogo, Magetan, Cepu, bahkan sampai Solo. Dipalak preman jalanan, sudah menjadi santapan biasa bagi Sutiyo. Penghasilan mereka tidak menentu, tergantung yang membayar. Satu orang bisa memberi Rp 500 sampai Rp 1000 untuk setiap tarian. Uang agak banyak baru mengalir ketika ada tontonan, sehari bisa mendapatkan sampai Rp 100 ribu. "Prinsipnya, kalau ada rejeki, kepada rekan senasib kami juga harus berbagi."

Jawapos

_________________
Admin Forum
Komunitas Maya Smadangawi - Komunitas Masa kini
Email : forum@smadangawi.net
Website : http://forum.smadangawi.net
FB : http://facebook.smadangawi.net
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://forum.smadangawi.net
 
Sekeluarga Ngamen Demi Menyambung Hidup
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
- FORUM SMADA NGAWI - :: INFORMASI :: Seputar Ngawi-
Navigasi: