MEdia Ngobrol dan Informasi Smada / Smuda Ngawi...
 
IndeksIndeks  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  LoginLogin  

Share | 
 

 Bencana Kelaparan Dalam Sejarah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 651
Age : 54
Lokasi : Nusantara Maya
Registration date : 29.01.08

PostSubyek: Bencana Kelaparan Dalam Sejarah   Sat Jun 14, 2008 3:29 am

Harga yang melangit. Kelangkaan kebutuhan pokok. Terjadinya dua hal ini memang tidak membuat nyaman. Bahkan sangat mencemaskan. Rembetannya bisa kemana-mana. Adanya kelaparan. Tindak kriminal yang semakin meningkat. Demo di mana-mana. Tindakan anarkis menjadi-jadi. Hilangnya rasa aman. Dan seabrek bentuk ketidaknyamanan lainnya. Siapa yang disalahkan? Ah, memang gampang untuk menyalahkan orang lain. Tetapi alangkah susahnya untuk mengaca dan melihat kekurangan yang ada pada diri sendiri. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja yang menimpa kalian dari musibah yang ada maka itu karena disebabkan oleh apa yang tangan-tangan kalian lakukan. Dan Allah memaafkan banyak darinya.”(Asy Syura 30)

Lihatlah! Renungkanlah! Allah timpakan musibah-musibah itu kepada kita disebabkan ulah tangan kita sendiri. Padahal, banyak dari ulah yang telah kita lakukan telah dimaafkan oleh Allah Ta’ala! Bagaimana seandainya setiap ulah dibalas oleh Allah? Tidak terbayangkan!

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada kaum hingga mereka sendiri yang mengubah apa yang ada pada mereka”(Ar Ra’d 11)

Sudah saatnya kita berintropeksi terhadap apa yang kita lakukan. Tidak perlu menyalahkan yang lain, institusi ataupun perorangan. Lebih selamat untuk kita melihat pribadi kita masing-masing dan membenahinya.

Mungkin ada baiknya kita melongok ke belakang dan membuka lembaran-lembaran sejarah yang hampir terlupakan. Ternyata, malapetaka sama yang lebih dahsyat pernah melanda umat ini. Setidaknya sebagian dari mereka. Sebagaimana yang terekam oleh goresan pena Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab beliau Al Bidayah wa An Nihayah. Marilah kita simak bersama:


Tahun 281 H ( 861 M)

“Harga-harga sangatlah mahal. Manusia di dalam kesusahan sampai mereka saling makan satu dengan yang lain. Seseorang bisa memakan anaknya sendiri laki-laki dan perempuan. Inna lillahi wa innailaihi raji’un.” (Al Bidayah wa An Nihayah 11/81)


Tahun 334 H ( 914 M)

“Di Baghdad terjadi kenaikan harga yang hebat sampai penduduknya memakan bangkai, kucing dan anjing. Bahkan ada yang menculik anak-anak, memanggang mereka kemudian dimakan.”( Idem 11/241)


Tahun 449 H ( 1029 M)

“Manusia memakan bangkai-bangkai dan hal-hal busuk disebabkan sedikitnya makanan. Ditemukan pada seorang perempuan paha anjing yang sudah menghijau. Seseorang bisa memanggang bayi dipemanggangan kemudian memakannya. Seekor bangkai burung jatuh dari tembok dan diperebutkan lima orang yang saling berbagi dan memakannya.

Terjadi wabah di daerah Alahwaz, Bawath dan lainnya sampai merata di seluruh negeri. Kebanyakannya disebabkan oleh kelaparan. Orang-orang faqir memanggang anjing, membongkar mayat-mayat dari kuburan, dan memakan mereka.”(Idem 12/89)


Tahun 597 H ( 1177 M)

“Kenaikan harga sangat dahsyat di mesir. Banyak sekali makhluk yang binasa dari kalangan orang-orang kaya atau miskin. Kemudian disusul dengan kelangkaan barang yang dahsyat. Sampai-sampai Asy Syaikh Abu Syamah menyebutkan di “Ad Dzail” (nama kitab -pent) : Al Adil (salah satu penguasa -pent) selama satu bulan dari tahun ini telah mengkafani dari hartanya sendiri kira-kira 220 ribu mayat. Pada waktu itu anjing-anjing dan mayat-mayat dimakan di mesir. Begitu juga dari kalangan anak-anak, mereka telah dimakan dalam jumlah yang banyak. Bapak dan ibu memanggang anaknya sendiri kemudian keduanya memakannya. Dan yang seperti ini sangat banyak terjadi di tengah-tengah manusia sampai sudah tidak ada lagi bentuk pengingkaran di antara mereka. Ketika anak-anak kecil dan mayat-mayat sudah habis, maka yang kuat melahap yang lemah, disembelih dan dimakan.

Seseorang menjebak si miskin, membawanya untuk memberinya makan dan sesuatu. Setelah itu si miskin disembelih dan dimakan. Seseorang menyembelih istrinya dan memakannya. Dan ini tersebar di antara mereka tanpa adanya pengingkaran atau keluhan. Bahkan mereka saling memaklumi. Ditemukan bersama sebagian orang 400 kepala. Telah binasa banyak dari kalangan dokter yang dipanggil untuk orang-orang yang sakit. Dokter-dokter ini disembelih dan dimakan.

Seseorang memanggil dokter kemudian menyembelihnya dan memakannya. Seseorang pria memanggil dokter yang mahir dan pria ini adalah orang yang berharta. Maka dokter ini pergi bersamanya dengan gemetar dan takut. Pria ini bersedekah terhadap siapa saja yang dia temui di jalan, banyak berdzikir kepada Allah dan mensucikanNya. Maka dokter ini pun menjadi ragu dan mulai menduga-duga. Akan tetapi rasa serakah membawanya untuk terus bersama pria tersebut sampai masuk ke rumahnya. Ternyata rumahnya dalam keadaan hancur. Dokter ini pun kembali ragu. Maka pria tersebut keluar dan berkata, “Bersamaan dengan keterlambatan ini, engkau telah membawa hasil buruan untuk kami”. Ketika mendengarnya, sang dokter pun segera kabur. Pria itu pun mengejarnya. Dokter itu tidaklah lolos kecuali dengan susah payah.” (Idem 13/32-33)


Empat kejadian di atas dengan tahun yang berbeda, adalah contoh dahsyatnya bencana kelaparan yang menimpa sebagian orang. Tiba-tiba orang menjadi kanibal. Jangankan untuk merasa aman pada keluarga. Pada diri sendiri saja seseorang tidak bisa merasa aman. Bahkan, mereka yang sudah mati saja tidak aman jasad mereka dari sergapan orang-orang kelaparan tersebut. La haula wa laa quwwata illa billah. Tentu saja, mereka tidak ingin seperti itu. Tidak ada yang tega untuk menyembelih anaknya sendiri apalagi sampai memakannya. Tapi keadaannya tidak memungkinkan untuk membuat pilihan!

Bandingkan dengan keadaan diri-diri kita saat ini. Jauh lebih baik. Belum pernah kita dengar ada yang memanggang anaknya. Belum pernah kita baca ada dokter yang disembelih dan dimakan karena pasiennya lapar. Belum muncul di dalam mediamassa seorang istri dibunuh dan dimakan karena suaminya lapar. Anjing-anjing dan kucing-kucing masih berkeliaran dengan aman.

Pantaskah kita untuk mengeluh? Pantaskah kita untuk menyalahkan? Tidak, tulisan ini tidak dibuat untuk membela mereka yang selalu terhujat. Tapi alangkah lebih baiknya - sekali lagi-, kalau kita mencari kesalahan itu pada diri-diri kita. Bukankah kalau kita temukan kesalahan-kesalahan itu pada diri kita, kita bisa memperbaikinya? Akan tetapi kalau kita tersibukkan dengan melihat kesalahan orang lain? Jangankan untuk memperbaiki kesalahan pribadi, untuk menemukan kesalahan itu sendiri kita tidak punya waktu. Sungguh tepat pepatah lama mengatakan, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”

Lupakah kita dengan sifat orang mukmin yang disebutkan oleh baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, bahwasanya orang mukmin, jika mendapatkan kelapangan dia bersyukur, sesuatu hal yang baik buat dia. Dan jika mendapatkan kemalangan, dia bersabar. Dan inipun baik buat dia. Hendaknya kita berusaha untuk selalu berada di antara dua keadaan, antara bersyukur dan bersabar bukan sebaliknya, mengeluh dan lupa diri. Wallahu a’lam bi ash showab.

_________________
Admin Forum
Komunitas Maya Smadangawi - Komunitas Masa kini
Email : forum@smadangawi.net
Website : http://forum.smadangawi.net
FB : http://facebook.smadangawi.net
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://forum.smadangawi.net
 
Bencana Kelaparan Dalam Sejarah
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
- FORUM SMADA NGAWI - :: KATA - KATA :: Muhasabah n Wacana-
Navigasi: